Saya perlu mengatakan bahwa saya pernah berdomisili dan mengunjungi Negara-negara; Jerman, Belanda, Belgia, Luxemburg, Italia, Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina. Hal ini dikarenakan untuk mengetahui bahwa dari pengalaman saya, saya mendapat beberapa kejutan kepercayaan dari negara-negara modern di Eropa.
Satu saat (tahun 1982) saya pernah kerja di pinggiran kota Hamburg. Karena saya jenuh, bekerja sendiri di pojokan gudang, maka untuk menyemangati, saya bekerja sambil bersiul (singsot).
Tanpa diduga, saya didatangi oleh seorang ibu-ibu setengah baya (Supervisor), ia berkata kepada saya, "Sie durfen hier nicht pfeifen, weil es eine Menge von Dämonen, die kommen werden" Artinya, kamu nggak boleh siul di sini, karena nanti akan banyak setan yang datang.
Kalau dulu Eyang saya selalu bilang, "ojo singsot mbengi-mbengi, ngundang setan". Dari pengalaman saya di atas, di negara yang modern dan selogis Jerman, hal itu masih dipercayai oleh masyarakatnya.
Jadi kalau para tokoh agama mengatakan bahwa itu tahayul, dan di negara modern hal itu sudah tidak ada lagi. Dapat dipastikan, si tokoh agama tadi, tidak memiliki pengalaman seperti di atas, atau bahkan ia mengatakan hal itu berdasarkan pesanan dari negara asal agama yang diwakilinya.
Tahun 2004 kebetulan saya harus bekerja di Berlin, dan saya mencari tempat tinggal di wilayah penduduk yang masih Asri. Hari-hari pertama saya harus melengkapi bumbu dapur, sehingga saya harus ke supermarket besar terdekat. Saat saya sudah membeli berbagai kebutuhan, saya melihat "Roncean Bawang Putih Laki-laki" dan saya pun mengambilnya.
Ketika saat saya berada di depan Kasir, saya pun menanyakan, "Roncean Bawang Putih Laki-laki" untuk memasak apa? Kasir yang saat itu, wanita muda yang masih berumuran 20 tahunan, menjelaskan kepada saya, bahwa "Roncean Bawang Putih Laki-laki" itu untuk digantungkan di depan pintu masuk, atau di dapur, gunanya untuk menolak mara bahaya, yang datang dari mahluk halus.
Dari dua pengalaman saya di atas, jelas bahwa orang-orang di negara modern, masih mempercayai adanya Dunia Gaib.
Read More..
.... Tuhan ada sebelum kita semua ada, Tuhan tetap ada setelah kita semua tiada ....
Ingin Menjadi Kejawen Sejati?
Bagaimana Menjadi Seorang Kejawen Sejati?
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...
Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik
Senin, 15 Februari 2010
Minggu, 14 Februari 2010
Catatan
Mantra dan Doa
Saya menggantikan kata mantra dengan doa, hal ini jelas alasannya. Bagi orang yang mengaku seorang Kejawen, tetapi mereka mengatakan doanya sebagai mantra, dapat dipastikan bahwa mereka, secara sengaja atau tidak sengaja terpengaruh oleh kelompok/golongan, yang ingin mendiskriditkan atau memutarbalikan fakta, sehingga orang menganggap bahwa Kejawen itu adalah sebagai aliran Kebatinan / Ilmu Hitam / Penyembah Berhala.
Jadi, bagi Anda yang mempelajari Agami Jawi dari sumber-sumber yang tidak jelas. Jika mereka menyebut Mantra, sebaik apapun prolog dari tulisan itu, dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari agama lain, yang ingin merusak makna luhurnya Agami Jawi.
Allah dan Ghusti
Kita sama-sama sepakat bahwa Tuhan sebagai “Yang Maha Pencipta” adalah Esa, sehingga seperti Air, kita pun dapat menyebut dalam bahasa Inggris; Water, atau dalam bahasa Jerman; Wasser, tetapi inti semuanya adalah sama, yakni H2O. Jadi, makna intinya adalah, jika Tuhan kita sapa dengan bahasa apapun, maka yang dimaksud adalah tetap Tuhan Yang Maha Esa. Berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa saat kita menyembahNya, merupakan hubungan yang unik bagi setiap individu. Saya pribadi menggunakan kosa kata Ghusti untuk menyembahNya.
Kanuragan
Orang-orang yang ingin menyesatkan pemahaman Agami Jawi, mereka memutarbalikan fakta, dengan menyisipkan kedalam ajaran Kejawen, yakni "metode praktis untuk melatih ilmu tenaga dalam". Padahal ilmu itu adalah, ilmu bela diri tradisional orang-orang Jawa yang disebut Kanuragan. Jadi Kanuragan sama sekali bukan bagian dari Agama Jawi, karena Agama Jawi tidak mengajarkan seseorang untuk perang. Dan anehnya, para penganut Kanuragan, ternyata banyak yang melafalkan Mantra mereka dengan bahasa Arab.
Read More..
Saya menggantikan kata mantra dengan doa, hal ini jelas alasannya. Bagi orang yang mengaku seorang Kejawen, tetapi mereka mengatakan doanya sebagai mantra, dapat dipastikan bahwa mereka, secara sengaja atau tidak sengaja terpengaruh oleh kelompok/golongan, yang ingin mendiskriditkan atau memutarbalikan fakta, sehingga orang menganggap bahwa Kejawen itu adalah sebagai aliran Kebatinan / Ilmu Hitam / Penyembah Berhala.
Jadi, bagi Anda yang mempelajari Agami Jawi dari sumber-sumber yang tidak jelas. Jika mereka menyebut Mantra, sebaik apapun prolog dari tulisan itu, dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari agama lain, yang ingin merusak makna luhurnya Agami Jawi.
Allah dan Ghusti
Kita sama-sama sepakat bahwa Tuhan sebagai “Yang Maha Pencipta” adalah Esa, sehingga seperti Air, kita pun dapat menyebut dalam bahasa Inggris; Water, atau dalam bahasa Jerman; Wasser, tetapi inti semuanya adalah sama, yakni H2O. Jadi, makna intinya adalah, jika Tuhan kita sapa dengan bahasa apapun, maka yang dimaksud adalah tetap Tuhan Yang Maha Esa. Berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa saat kita menyembahNya, merupakan hubungan yang unik bagi setiap individu. Saya pribadi menggunakan kosa kata Ghusti untuk menyembahNya.
Kanuragan
Orang-orang yang ingin menyesatkan pemahaman Agami Jawi, mereka memutarbalikan fakta, dengan menyisipkan kedalam ajaran Kejawen, yakni "metode praktis untuk melatih ilmu tenaga dalam". Padahal ilmu itu adalah, ilmu bela diri tradisional orang-orang Jawa yang disebut Kanuragan. Jadi Kanuragan sama sekali bukan bagian dari Agama Jawi, karena Agama Jawi tidak mengajarkan seseorang untuk perang. Dan anehnya, para penganut Kanuragan, ternyata banyak yang melafalkan Mantra mereka dengan bahasa Arab.
Read More..
Selasa, 25 Agustus 2009
SID - Segitiga Interaksi Diri
Setelah Anda berhasil dengan Olah Roso I atau kita sebut pada tahap ber-Empati, maka tahap berikutnya adalah Olah Roso II atau yang dapat digambarkan sebagai Segitiga Interaksi Diri, yang merupakan langkah kedua untuk menjadi orang yang Berbudi Luhur.
Dalam Olah Roso I, kita mencoba merasakan perbuatan kita kepada orang, persis seperti jika orang lain memperlakukannya kepada kita.
Sedangkan dalam Olah Roso II, setelah kita mahir menjadi orang yang ber-Empati, maka kita pun harus dapat menjadi wasit atau juri bagi sandiwara empati tersebut di atas.
Gambarannya;
Anda berkelahi dengan si A, karena kesalahan si A kepada Anda.
Dalam Empati, pasti Anda hanya berfikir pada saat waktu perkelahian tersebut sebelum dimulai. Jika Anda merasa tidak bersalah, apa salahnya Anda mempertahankan diri dengan berencana turut memukul si A, jika si A memukul terlebih dahulu.
Tetapi, dengan Segitiga Interaksi Diri, Anda mencoba menjadi penonton dalam perselisihan Anda dengan si A, yang mana Anda akan lebih bijak, untuk tidak menuruti si kehendak si A untuk berkelahi.
Tetapi Anda justru meminta maaf, karena hal tersebut hanya kesalahpahaman yang tidak perlu berujung pada perkelahian.
Tetapi bagaimana, jika si A tetap memukul Anda.
Pada Olah Roso III, Anda akan paham, tanpa Anda melawan pun, si A akan jatuh dengan sendirinya.
Read More..
Dalam Olah Roso I, kita mencoba merasakan perbuatan kita kepada orang, persis seperti jika orang lain memperlakukannya kepada kita.
Sedangkan dalam Olah Roso II, setelah kita mahir menjadi orang yang ber-Empati, maka kita pun harus dapat menjadi wasit atau juri bagi sandiwara empati tersebut di atas.
Gambarannya;
Anda berkelahi dengan si A, karena kesalahan si A kepada Anda.
Dalam Empati, pasti Anda hanya berfikir pada saat waktu perkelahian tersebut sebelum dimulai. Jika Anda merasa tidak bersalah, apa salahnya Anda mempertahankan diri dengan berencana turut memukul si A, jika si A memukul terlebih dahulu.
Tetapi, dengan Segitiga Interaksi Diri, Anda mencoba menjadi penonton dalam perselisihan Anda dengan si A, yang mana Anda akan lebih bijak, untuk tidak menuruti si kehendak si A untuk berkelahi.
Tetapi Anda justru meminta maaf, karena hal tersebut hanya kesalahpahaman yang tidak perlu berujung pada perkelahian.
Tetapi bagaimana, jika si A tetap memukul Anda.
Pada Olah Roso III, Anda akan paham, tanpa Anda melawan pun, si A akan jatuh dengan sendirinya.
Read More..
Selasa, 28 Juli 2009
Kejawen Tidak Perlu Guru Agama
Mengapa Kedjawen tidak perlu Guru Agama???
Hal ini dikarenakan, di satu sisi "Empat Sila Utama Pola Hubungan" bisa didapat dari Olah Roso, d sisi lain Pola Hubungan Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah Pola Hubungan yang Unik.
Sehingga tidak ada Guru yang lebih paham dari Diri Kita Sendiri, dalam konteks Hubungan Diri Kita Sendiri dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Alasan lain, Guru Agama cenderung membodohi muridnya demi keuntungan dirinya sendiri.
Di Negara Berkembang, Guru Agama menjadi profesi untuk cari makan. Jadi, Kedjawen adalah hal yang mengancam bagi mereka yang mencari makan dari mengakali silabus pengajaran agama menjadi semakin panjang.
Dari penelitian kecil saya, selama saya berkunjung ke berbagai negara-negara maju di seluruh dunia. Di sana tidak yang namanya Guru Agama.
Karena Agama adalah hal yang sangat pribadi, atau yang saya selalu sebut sebagai "Hubungan Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah Hubungan Yang Unik"
Read More..
Hal ini dikarenakan, di satu sisi "Empat Sila Utama Pola Hubungan" bisa didapat dari Olah Roso, d sisi lain Pola Hubungan Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah Pola Hubungan yang Unik.
Sehingga tidak ada Guru yang lebih paham dari Diri Kita Sendiri, dalam konteks Hubungan Diri Kita Sendiri dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Alasan lain, Guru Agama cenderung membodohi muridnya demi keuntungan dirinya sendiri.
Di Negara Berkembang, Guru Agama menjadi profesi untuk cari makan. Jadi, Kedjawen adalah hal yang mengancam bagi mereka yang mencari makan dari mengakali silabus pengajaran agama menjadi semakin panjang.
Dari penelitian kecil saya, selama saya berkunjung ke berbagai negara-negara maju di seluruh dunia. Di sana tidak yang namanya Guru Agama.
Karena Agama adalah hal yang sangat pribadi, atau yang saya selalu sebut sebagai "Hubungan Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah Hubungan Yang Unik"
Read More..
Senin, 13 Juli 2009
Malu Mengaku Kejawen
Kalau kita membaca kliping-kliping tahun 70-an (tepatnya sekitar tahun 1975 - 1979), terasa benar, pada saat itu masyarakat Indonesia malu mengaku produk dalam negeri.
Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi ada kekuatan luar yang membawa dampak ini. Kekuatan luar tersebut, tentunya tidak dapat berjalan secara mulus, kalau tidak ada penghianat-penghianat Bangsa ini yang membantu masuknya produk asing, dan mempersulit berkembangnya Produk Dalam Negeri.
Hal tersebut mengingatkan kita pada pristiwa penghianatan Raden Patah YTPHN, terhadap Ayah kandungnya sendiri, demi membantu penyebaran Agama Pendatang.
Pada priode tersebut, mulailah terasa, bahwa banyaknya opini negatif terhadap penganut Agami Jawi, yang dibuat oleh kelompok Agama Pendatang tersebut.
Mulai dari konsep syirik, yang tadinya tidak dikenal kosa kata tersebut di tanah Jawa ini, karena memang sebenarnya Agami Jawi tidak menyembah berhala / Mahluk Halus / Jin atau roh-roh lainnya, seperti yang selalu dituduhkan Agama Pendatang kepada pemeluk Kedjawen.
Di lain pihak, sifat orang Jawa secara mayoritas adalah orang tidak senang berkonflik, maka tuduhan tersebut tidak ditanggapi secara serius. Akibatnya, dari generasi ke generasi selanjutnya, terkikislah pemeluk Agami Jawi. Yang terjebak dalam opini Agama Pendatang.
Yang perlu diingat, semua Agama di Dunia ini, pasti mempunyai atau memiliki satu titik fokus untuk mereka melalukan ritual Sembahyang. Agama Hindu dengan Patung-patung Suci-nya, Agama Budha juga demikian, Agama Kristen dengan Patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Agama Islam dengan Kabah-nya.
Bagaimanapun mereka berkelit, semua Benda tersebut adalah sebagai sarana arah konsentrasi dan pembentukan imajinasi mereka. Lagi-lagi masalah ke-Iman-an dan Dogma yang ditonjolkan dalam mengkunci definisi Benda yang mereka Sembah Sebagai Arah Imajinasi dan Konsentrasi, sebagai Definisi yang mereka terjemahkan menurut keyakinan pendahulunya.
Memang, pemeluk agama dimanapun, mungkin hanya segelintir saja dari pemeluknya yang mau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam ritual-ritualnya.
Catatan:
Kejawen, sebenar-benarnya adalah satu-satunya Agama di muka bumi ini, yang tidak membutuhkan Benda apapun untuk melakukan ritual. Hanya saja, tidak setiap orang memilki daya konsentrasi yang tinggi, sehingga bagi mereka inilah dibutuhkan sebuah Benda untuk arah konsentrasinya. Hal ini dikarenakan, tidak setiap orang dapat melakukan Olah Roso dengan penuh rasa pasrah kepadaNya.
Sementara banyak ilmu beladiri di Nusantara ini, yang menggunakan kekuatan Ghaib. Seperti di semua dan setiap bangsa yang ada di Dunia ini, memiliki ilmu-ilmu beladiri yang berkekuatan Ghaib pula.
Read More..
Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi ada kekuatan luar yang membawa dampak ini. Kekuatan luar tersebut, tentunya tidak dapat berjalan secara mulus, kalau tidak ada penghianat-penghianat Bangsa ini yang membantu masuknya produk asing, dan mempersulit berkembangnya Produk Dalam Negeri.
Hal tersebut mengingatkan kita pada pristiwa penghianatan Raden Patah YTPHN, terhadap Ayah kandungnya sendiri, demi membantu penyebaran Agama Pendatang.
Pada priode tersebut, mulailah terasa, bahwa banyaknya opini negatif terhadap penganut Agami Jawi, yang dibuat oleh kelompok Agama Pendatang tersebut.
Mulai dari konsep syirik, yang tadinya tidak dikenal kosa kata tersebut di tanah Jawa ini, karena memang sebenarnya Agami Jawi tidak menyembah berhala / Mahluk Halus / Jin atau roh-roh lainnya, seperti yang selalu dituduhkan Agama Pendatang kepada pemeluk Kedjawen.
Di lain pihak, sifat orang Jawa secara mayoritas adalah orang tidak senang berkonflik, maka tuduhan tersebut tidak ditanggapi secara serius. Akibatnya, dari generasi ke generasi selanjutnya, terkikislah pemeluk Agami Jawi. Yang terjebak dalam opini Agama Pendatang.
Yang perlu diingat, semua Agama di Dunia ini, pasti mempunyai atau memiliki satu titik fokus untuk mereka melalukan ritual Sembahyang. Agama Hindu dengan Patung-patung Suci-nya, Agama Budha juga demikian, Agama Kristen dengan Patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Agama Islam dengan Kabah-nya.
Bagaimanapun mereka berkelit, semua Benda tersebut adalah sebagai sarana arah konsentrasi dan pembentukan imajinasi mereka. Lagi-lagi masalah ke-Iman-an dan Dogma yang ditonjolkan dalam mengkunci definisi Benda yang mereka Sembah Sebagai Arah Imajinasi dan Konsentrasi, sebagai Definisi yang mereka terjemahkan menurut keyakinan pendahulunya.
Memang, pemeluk agama dimanapun, mungkin hanya segelintir saja dari pemeluknya yang mau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam ritual-ritualnya.
Catatan:
Kejawen, sebenar-benarnya adalah satu-satunya Agama di muka bumi ini, yang tidak membutuhkan Benda apapun untuk melakukan ritual. Hanya saja, tidak setiap orang memilki daya konsentrasi yang tinggi, sehingga bagi mereka inilah dibutuhkan sebuah Benda untuk arah konsentrasinya. Hal ini dikarenakan, tidak setiap orang dapat melakukan Olah Roso dengan penuh rasa pasrah kepadaNya.
Sementara banyak ilmu beladiri di Nusantara ini, yang menggunakan kekuatan Ghaib. Seperti di semua dan setiap bangsa yang ada di Dunia ini, memiliki ilmu-ilmu beladiri yang berkekuatan Ghaib pula.
Read More..
Label:
Agama Pendatang,
Dogma,
Iman,
Pahlawan,
Penghianat,
Sembahyang
Selasa, 16 Juni 2009
Pahlawan vs Penghianat
Pahlawan adalah orang yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara (Kerajaan)
Sementara Penghianat adalah orang yang tidak setia kepada Bangsa dan Negara (Kerajaan), dan bahkan menghalalkan segala cara (machiavellian) untuk menelikung teman, saudara atau bahkan Orang Tua-nya sendiri.
Setelah kita mengerti definisi dari Pahlawan, dan definisi dari Penghianat, maka kita baru dapat menilai bahwa:
Raden Patah YTPHN adalah Penghianat bagi Bangsa Indonesia, dilain pihak Raden Patah YTPHN adalah Pahlawan bagi orang-orang Islam atau bahkan bagi Saudi Arabia.
Bagi orang-orang yang mempunyai Hati Nurani, tidaklah mungkin menikam ayahnya sendiri. Dan melupakan atau memutarbalikan sejarah, bahwa Kerajaan Demak yang sebenarna adalah pemberian kekuasaan oleh Raden Wijaya kepada Raden Patah YTPHN.
Sementara demi kepentingan Islam, maka para Wali pun turut melegitimasi, bahwa Kerajaan Demak adalah didirikan oleh Raden Patah YTPHN.
Di dunia ini memang ada agama-agama yang machiavellian
Kalau dipikir dengan akal sehat, dan kita dihadapi dengan dua pilihan, maka apakah sifat Tuhan Yang Maha Esa itu Berbudi machiavellian atau Berbudi Luhur?
Read More..
Sementara Penghianat adalah orang yang tidak setia kepada Bangsa dan Negara (Kerajaan), dan bahkan menghalalkan segala cara (machiavellian) untuk menelikung teman, saudara atau bahkan Orang Tua-nya sendiri.
Setelah kita mengerti definisi dari Pahlawan, dan definisi dari Penghianat, maka kita baru dapat menilai bahwa:
Raden Patah YTPHN adalah Penghianat bagi Bangsa Indonesia, dilain pihak Raden Patah YTPHN adalah Pahlawan bagi orang-orang Islam atau bahkan bagi Saudi Arabia.
Bagi orang-orang yang mempunyai Hati Nurani, tidaklah mungkin menikam ayahnya sendiri. Dan melupakan atau memutarbalikan sejarah, bahwa Kerajaan Demak yang sebenarna adalah pemberian kekuasaan oleh Raden Wijaya kepada Raden Patah YTPHN.
Sementara demi kepentingan Islam, maka para Wali pun turut melegitimasi, bahwa Kerajaan Demak adalah didirikan oleh Raden Patah YTPHN.
Di dunia ini memang ada agama-agama yang machiavellian
Kalau dipikir dengan akal sehat, dan kita dihadapi dengan dua pilihan, maka apakah sifat Tuhan Yang Maha Esa itu Berbudi machiavellian atau Berbudi Luhur?
Read More..
Label:
Agama Pendatang,
Berbudi Luhur,
Machiavellian,
Pahlawan,
Penghianat
Rabu, 10 Juni 2009
Kesembuhan Dengan Olah Roso
Mengapa Kejawen selalu dimusuhi oleh Agama-agama yang berorientasi ekonomi. Karena untuk penyembuhan, Seorang Kejawen tidak perlu pergi ke Dokter atau Tabib.
Karena Seorang Kejawen yakin, bahwa Manusia adalah Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga jika terjadi "Kerusakan Organ Tubuhnya," maka hanyalah Ghusti itu sendiri yang dapat menyembuhkannya.
Dengan Olah Roso, Seorang Kejawen dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Sehingga, bagi Seorang Kejawen yang sudah mengerti pentingnya Olah Roso, Ia akan dapat menyembuhkan dirinya dari segala macam penyakit yang ada di dunia ini. Kecuali sudah "Kehendak Ghusti".
Caranya:
Doa Untuk Memohon Kesembuhan
Membuat Air Jadi Obat
Puasa Mutih Senin Kamis (Hanya bagi penyakit yang parah atau sudah menahun)
Read More..
Karena Seorang Kejawen yakin, bahwa Manusia adalah Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga jika terjadi "Kerusakan Organ Tubuhnya," maka hanyalah Ghusti itu sendiri yang dapat menyembuhkannya.
Dengan Olah Roso, Seorang Kejawen dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Sehingga, bagi Seorang Kejawen yang sudah mengerti pentingnya Olah Roso, Ia akan dapat menyembuhkan dirinya dari segala macam penyakit yang ada di dunia ini. Kecuali sudah "Kehendak Ghusti".
Caranya:
Doa Untuk Memohon Kesembuhan
Membuat Air Jadi Obat
Puasa Mutih Senin Kamis (Hanya bagi penyakit yang parah atau sudah menahun)
Read More..
Label:
Ciptaan Ghusti,
Kesehatan,
Obat,
Olah Roso,
Puasa,
Self Healing
Langganan:
Postingan (Atom)