Ingin Menjadi Kejawen Sejati?

Bagaimana Menjadi Seorang Kejawen Sejati?
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.

Selasa, 23 Oktober 2007

Aturan Interaksi dalam Sebuah Ikatan Pernikahan

Banyak Agama yang memberikan begitu banyak aturan pola interaksi dalam sebuah pernikahan, tetapi banyak aturan-aturan tersebut kalau dikaji secara seksama akan adanya ketidak adilan peran.

Dalam Agami Jawi, aturan tertulis tidaklah menjadi sebuah acuan yang bisa diterapkan secara adil, antara diri sendiri dengan pasangan kita.

Agar dapat adil perlakuan tersebut satu sama lain, Aturan Pola Interaksi Suami Istri, dari keluarga Kejawen, cukup Anda menerapkan apa yang disebut dengan Segitiga Interaksi Diri.

Dengan menerapkan aturan dari Segitiga Interaksi Diri dengan Tulus dan Iklas, dapat dipastikan bahwa kita akan membawa Pernikahan kita hingga sampai ke Surga.

Dengan bantuan Segitiga Interaksi Diri, kita tidak lagi dituntut untuk menghafalkan ayat-ayat yang panjang dan berbelit-belit.
Read More..

Makna Pernikahan Bagi Seorang Kejawen Sejati

Sebuah pernikahan adalah sebuah proses yang sangat sakral. Olehkarenanya, sebagai Kejawen Sejati harus melihatnya sebagai sebuah kejadian luar biasa. Mengapa demikian?

Hal ini dikarenakan, pernikahan adalah sebuah proses penyatuan dua belah jiwa menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Oleh karenanya bagi Seorang Kejawen Sejati, pasangan disebut dengan singkatan "Garwo" Sigarane Nyowo (Belahan Jiwa), sehingga satu diantara belahan tersebut hilang, hilanglah semuanya.

Di agama manapun, kita mengenal bahwa manusia hanya memiliki "Satu Nyawa." Untuk itulah tanpa harus ada Kitab dan Ayat-ayat yang ber-Pokrol Bambu, maka jelas bagi Seorang Kejawen Sejati, kita tidak mengenal apa yang disebut dengan Poligami atau Poliandri.

Hal ini dapat ditelaah oleh diri kita sendiri dengan menerapkan Segitiga Interaksi Diri

Semoga Pernikahan Kita benar-benar Sakral adanya dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan bukan sebagai selubung dari legitimasi pelampiasan Libido semata.
Read More..

Sabtu, 13 Oktober 2007

Ujian dari Tuhan Yang Maha Esa

Di agama lain, mungkin mempercayai bahwa "Kesusahan atau Penderitaan" merupakan Ujian dari Tuhan.

Bagi Agami Jawi, Ghusti hanya memutuskan 2 hal absolut (yang disebut Takdir), yakni Kehidupan (Lahir di Bumi), dan Kematian (Meninggalkan Bumi). Selain itu, Ghusti memberikan kita pilihan.

Pada saat kita dilahirkan, dapat dianalogikan kita berada di depan "Sejuta Persimpangan Jalan." Pada saat itu, memang kita belum dapat memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Di sinilah peran Orang Tua kita yang memberikan warna samar-samar pada arah jalan hidup kita kemudian.

Namun pada saatnya kita menginjak besar/puber, seyogyanya kita sudah mempuyai kapabilitas untuk menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Saat itulah, kita menentukan nasib kita sendiri.

Dua pilihan besarnya adalah, apakah kita ingin menjadi "Orang Baik atau Orang Jahat." Dari dua pilihan besar itu, kita pun masih harus memilah-milah defrensiasinya dalam menjalankan pilihan itu sendiri.

Yang perlu diingat adalah, jika kita sedang dalam masa-masa Sulit atau Kesusahan, maka itu artinya, kita sedang berada dalam jalan yang salah. Bukan Ujian dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan kita mengatakan bahwa kesulitan itu adalah "Ujian dari Tuhan Yang Maha Esa," maka tak ubahnya kita mengecilkan Tuhan kita sendiri. Hal ini yang banyak dilakukan oleh agama-agama impor/pendatang. Menurut mereka Tuhan tak ubahnya seperti Satpam, hal ini pulalah yang membuat bangsa kita, selalu terpuruk dari eksistensi negara-negara lain. Ingatlah, Tuhan ada di atas segala-galanya. Ketika kita mengecilkanNYA, maka Alam dan seisinya yang akan mengecilkan kita.

Mungkin banyak dari Anda, mempertanyakan tentang sangat berbedanya pola pikir Agama Lokal Nusantara ini, dengan agama-agama impor lainnya. Hal ini dikarenakan, Agami Jawi tumbuh di alam yang bersahabat, sehingga Seorang Kejawen Sejati terbiasa melihat di luar dirinya adalah hal-hal yang baik. Jadi, justru dirinyalah yang harus menyesuaikan dengan kebaikan itu sendiri. Hal ini Anda dapat memahaminya pada "Empat Sila Utama Pola Hubungan."
Read More..

Senin, 03 September 2007

Penghianat adalah sifat yang harus dikucilkan

Kalau Anda seorang yang Berbudi Luhur, maka perbuatan "Berhianat" adalah perbuatan yang jauh dari pikiran apa lagi dari HatiNurani yang terdalam. Tetapi kepintaran Agama Impor untuk seolah-olah mereka mengajarkan Berjiwa Besar dengan Memaafkan dan Merangkul Kembali Sebagai Teman.

Pola tersebut di atas, yang mereka pakai, ketika Raden Patah YTPHN menelikung Ayah Kandung-nya sendiri.

Raden Wijjaya yang kala itu, menganut Agama Hindu, yang notabene ada kemiripan dalam mengolah dan mengatur emosi seperti Seorang Kejawen. Maka Raden Wijaya terpengaruh untuk memaafkan anaknya tanpa embel-embel apapun.

Inilah awal kejatuhan Agama Hindu yang masuk Nusantara sebagai Agama Impor jauh sebelum adanya agama-agama impor lainnya, meskipun Agama Hindu pada saat itu, tak ubahnya dengan mayoritas Agama Islam sekarang ini, yakni Hindu Kejawen dan Islam Kejawen. Karena bagaimana pun, akar budaya bangsa yang kuat itu tidak dapat serta merta dilunturkan oleh agama-agama impor.

Agama impor non Hindu tersebut, selalu memakai Nilai-nilai Pe-maafan Kedjawen untuk dijadikan sebuah senjata ampuh, demi untuk memuluskan kepentingan penyebaran agamanya sendiri.

Jadi Agama-agama impor tersebut menempatkan "Penghianat Bangsa Indonesia sebagai Pahlawan Mereka"

Untuk tidak terulang lagi, dan tidak kecolongannya orang-orang Kejawen dari Penipuan Nilai-nilai Pola Pikir, maka Penghianat ditempatkan pada bagian luar Teman (Kalau tidak tega menyebutnya sebagai musuh).

Karena dengan kita membiarkan tumbuh kembangnya Penghianat di negeri ini, sama saja kita turut menghancurkan Bangsa kita sendiri. Dan kalau kita tahu, tapi kita diam saja atau pura-pura tidak tahu, karena mungkin tidak enak (Ewuh Pekewuh), terhadap lingkungan pergaulan kita, maka kita pun secara tidak langsung sudah menjadi Penghianat itu sendiri.
Read More..

Minggu, 02 September 2007

Agama = Ideologi?

Semua Agama di dunia berawal, atau lahir dari nilai-nilai tradisi setempat yang selanjutnya dilaksanakan dengan kepercayaan-kepercayaan yang diritualkan sejalan dengan Tradisi Lokal tersebut, sehingga tidak mengherankan, kalau para pakar sosiologi menyatakan, bahwa semua Agama di Dunia lahir pada awalnya dari Agama Lokal.

Sementara, Ideologi lahir dari pemikiran-pemikiran melalui proses thesis anti-thesis, yang pada akhirnya melahirkan aturan-aturan sosial yang komplit pula.

Perbedaan esensial antara Agama dengan Ideologi adalah, terletak pada pola Hukuman dan Penghargaannya.

Agama menerapkan hitungan hukuman dengan "Dosa", yang masih sangat imajinatif, dan harus dipercayai dengan melalui Iman dan Dogma (Kebalikan dari Fakta dan Data).

Sementara Ideologi menerapkan hukumannya dengan Hukum Positif setempat yang berlaku, dan harus dilaksanakan dengan Fakta dan Data (Kebalikan dari Iman dan Dogma).

Sementara, kesamaan antara Agama dengan Ideologi adalah, untuk dapat mengerti aturan-aturan Agama atau Ideologi, secara ceteris paribus, orang harus membaca dan menghafalkannya terlebih dahulu.

Sehingga, tidak mengherankan, ketika seseorang yang hafal dan eksis di lingkungannya karena pengetahuannya terhadap Agama atau Ideologi tertentu, secara psikologis, orang tersebut akan ketagihan untuk terus membaca dan menghafalkan segala sesuatunya, agar dia dapat tetap eksis sebagai narasumber.

Ketagihan untuk menjadi seorang ahli dalam sebuah Agama atau Ideologi tertentu, membuat seseorang menjadi seorang yang fanatik terhadap apa yang ia baca dan percayai.

Kefanatikan seseorang inilah, yang dapat dipergunakan oleh orang-orang ahli "Cuci Otak" untuk menjadikan targetnya menjadi seorang Teroris.

Agami Jawi bukan Agama yang perlu dihafalkan, tetapi Agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses "
Olah Roso", Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan Surga dan Nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan.

Dengan "Olah Roso", seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati, tidak berangan-angan masuk ke Surga, karena ia sudah menemukan Kedamaian, ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti Agama Rosul, yang menggunakan Rosul sebagai Perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi dapat dipastikan pemeluk Agami Jawi, tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti.

Read More..

Rabu, 25 Juli 2007

Ghusti Allah

Banyak orang Indonesia yang menyebut "Tuhan Yang Maha Esa" dengan "Ghusti Allah".

Di sisi lain kita tahu, bahwa hukum Tata Bahasa kita adalah hukum DM (Diterangkan Menerangkan), sehingga dari kata "Ghusti Allah" jelas, bahwa kata "Ghusti" ada sebelum kata "Allah" (sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi), sementara kata "Ghusti" yang digunakan oleh Kedjawen sebagai penghargaan tertinggi dalam menyebut "Tuhan Yang Maha Esa" sudah ada pada 4425 tahun Sebelum Masehi

Dari hukum DM dapat dibuktikan bahwa, konsep "Tuhan Yang Maha Esa" sudah ada terlebih dahulu dalam diri seorang Kejawen, sebelum sebutan "Allah" disosialisasikan di dunia.

Ketika Agama Pendatang ingin mamasukan pola pikirnya ke dalam masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal konsep "Tuhan Yang Maha Esa" dengan sebutannya sendiri.
Pertama-tama, mereka mencoba menggantikan kata "Ghusti" dengan kata "Tiada Tuhan selain Allah", namun karena orang-orang Indonesia pada saat itu, adalah orang-orang yang "Internalistik Religius", sehingga sangat sulit untuk menggantikan kata "Ghusti" dengan kata "Alah".

Untuk itu, mereka merubah strategi dengan menyisipkan kata "Allah" pada kata "Ghusti", tetapi lagi-lagi, karena kata "Ghusti" sudah mendarah daging dalam pikiran orang Indonesia, sehingga mereka menurunkan kata "Allah" itu sendiri menjadi kata sifat. Yakni "Ghusti Allah", yang dalam terjemahannya; "Ghusti" adalah "Allah".
Analoginya Jas Merah; "Jas berwarna Merah"

Setelah kata "Ghusti Allah" diterima oleh penduduk lokal, maka mereka melakukan strategi berikutnya, yakni dengan mensosialisasikan bahwa "Ghusti" adalah sanjungan pada kata "Allah". Kemudian "Ghusti" diartikan dengan "Sang Pangeran", lagi-lagi ini pemutarbalikan fakta oleh Agama Pendatang.

Bagi Anda yang ingin menjadi Kejawen Sejati, seyogyanya, setelah mengerti Jas Merah (Jangan Suka Melupakan Sejarah), mulai sekarang hanya menggunakan kata "Ghusti" untuk mengagungkanNYA.

Catatan:
Internalistik Religius adalah sebuah prilaku yang sudah sangat melekat pada Motorik () orang Indonesia.
Read More..

Minggu, 17 Juni 2007

Reiki adalah Ilmu Kebatinan?

Cara Pengobatan Energi (energy healing / energy medicine) dengan cara menyalurkan energi ke dalam tubuh manusia yang sakit.

Reiki berasal dari kata “Rei” yang berarti kearifan spiritual, yang secara umum bermakna alam semesta. Rei dapat juga diartikan sebagai pengetahuan supernatural atau kesadaran spiritual yang merupakan kearifan yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mencapai kesadaran yang dapat memahami setiap orang, serta mengetahui segala penyebab masalah dan kesulitan, sekaligus mengetahui bagaimana cara penyembuhanya, dengan cara Olah Roso (Olah Batin), agar seseorang mendapatkan Energi tersebut.

Apakah dengan Olah Batin ini, maka Reiki dapat disebut sebagai Ilmu Kebatinan? Seperti yang dituduhkan oleh Agama Pendatang kepada Kejawen.

Catatan:
Kekejian Agama Pendatang memutar balikan antara makna Olah Batin dengan Kebatinan adalah ulah yang tidak terpuji. Dapat dipastikan, bahwa orang-orang yang memutarbalikan fakta tersebut, adalah bukan orang-orang yang memeluk Agama Tuhan. Atau bahkan mungkin, orang-orang tersebut justru menganut Agama Setan.
Read More..