Ingin Menjadi Kejawen Sejati?

Bagaimana Menjadi Seorang Kejawen Sejati?
Caranya; puasa lah mutih Senin Kamis, pada saat menjalani puasa tersebut tanyakan pada diri sendiri (dasar2 Olah Roso), apakah Anda suka membohongi diri Anda sendiri? Kalau jawabannya, Anda suka membohongi diri Anda sendiri, maka Anda bukan orang yang cocok untuk Menjadi Seorang Kejawen....
Kejawen adalah orang yang memeluk Agami Jawi. Jawi sendiri memiliki arti dan makna : Berbudi Luhur. Jadi Agami Jawi bukan Agamanya orang Jawa saja, melainkan Agamanya orang yang ingin Berbudi Luhur...

Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani.

Rabu, 25 Juli 2007

Ghusti Allah

Banyak orang Indonesia yang menyebut "Tuhan Yang Maha Esa" dengan "Ghusti Allah".

Di sisi lain kita tahu, bahwa hukum Tata Bahasa kita adalah hukum DM (Diterangkan Menerangkan), sehingga dari kata "Ghusti Allah" jelas, bahwa kata "Ghusti" ada sebelum kata "Allah" (sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi), sementara kata "Ghusti" yang digunakan oleh Kedjawen sebagai penghargaan tertinggi dalam menyebut "Tuhan Yang Maha Esa" sudah ada pada 4425 tahun Sebelum Masehi

Dari hukum DM dapat dibuktikan bahwa, konsep "Tuhan Yang Maha Esa" sudah ada terlebih dahulu dalam diri seorang Kejawen, sebelum sebutan "Allah" disosialisasikan di dunia.

Ketika Agama Pendatang ingin mamasukan pola pikirnya ke dalam masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal konsep "Tuhan Yang Maha Esa" dengan sebutannya sendiri.
Pertama-tama, mereka mencoba menggantikan kata "Ghusti" dengan kata "Tiada Tuhan selain Allah", namun karena orang-orang Indonesia pada saat itu, adalah orang-orang yang "Internalistik Religius", sehingga sangat sulit untuk menggantikan kata "Ghusti" dengan kata "Alah".

Untuk itu, mereka merubah strategi dengan menyisipkan kata "Allah" pada kata "Ghusti", tetapi lagi-lagi, karena kata "Ghusti" sudah mendarah daging dalam pikiran orang Indonesia, sehingga mereka menurunkan kata "Allah" itu sendiri menjadi kata sifat. Yakni "Ghusti Allah", yang dalam terjemahannya; "Ghusti" adalah "Allah".
Analoginya Jas Merah; "Jas berwarna Merah"

Setelah kata "Ghusti Allah" diterima oleh penduduk lokal, maka mereka melakukan strategi berikutnya, yakni dengan mensosialisasikan bahwa "Ghusti" adalah sanjungan pada kata "Allah". Kemudian "Ghusti" diartikan dengan "Sang Pangeran", lagi-lagi ini pemutarbalikan fakta oleh Agama Pendatang.

Bagi Anda yang ingin menjadi Kejawen Sejati, seyogyanya, setelah mengerti Jas Merah (Jangan Suka Melupakan Sejarah), mulai sekarang hanya menggunakan kata "Ghusti" untuk mengagungkanNYA.

Catatan:
Internalistik Religius adalah sebuah prilaku yang sudah sangat melekat pada Motorik () orang Indonesia.